Sabtu, 3 Ogos 2013

Aku Ingin Mati....!!!



"Guru, saya sudah bosan dengan hidup ini. Sudah jemu betul rasanya. Rumah tangga saya berantakan, tidak lagi harmoni. Perniagaan saya pula semakin merosot . Apapun yang saya lakukan kelihatan hanya menghasilkan kekecewaan sahaja. Saya ingin mati."

Si Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."

"Tidak, saya tidak sakit. Saya sihat. Hanya sudah putus asa dan jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, Si Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu di panggil, 'Alahan Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disedari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini terus berjalan. Sungai kehidupan terus juga mengalir, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di satu sudut dan kita tidak lagi ikut mengalir bersama aliran air. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Kita menahan diri untuk terus ikut mengalir bersama kehidupan. Itulah yang membuatkan diri kita sakit.

Selagi ia bernama usaha atau ikhtiar, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, turut dipengaruhi oleh masalah yang sama. Ia sebuah lumrah. Persahabatan pun tidak selalu berjalan lancar… tidak selamanya tenang. Mana ada yang berkeadaan statik dalam kehidupan ini. Adakah kita tidak menyedari sifat kehidupan memang sebegitu kejadiannya? Kita sentiasa ingin mempertahankan suatu keadaan. Tapi kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu boleh disembuhkan, asal saja kamu ingin sembuh dan bersedia menurut tunjuk ajarku." Demikian Si Guru memberikan saranan.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jemu. Tidak, saya tidak ingin hidup lagi." Lelaki itu menolak tawaran Si Guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"

"Ya, memang saya sudah bosan dengan hidup."

"Baiklah jika begitu keputusanmu. Petang esok kamu akan mati. Ambillah botol ubat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi esok petang, pukul 6 dan tepat jam 8 malan nanti kamu akan mati dengan tenang."

Giliran si lelaki itu pula menjadi binggung. Setiap guru  yang dia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya kata-kata semangat untuk terus hidup. Yang satu ini aneh. Malahan, ia menawarkan racun pula. Tetapi, kerana dia memang sudah betul-betul jenuh, dia menerimanya dengan senang hati.

Sesampainya di rumah, dia terus menghabiskan setengah botol racun yang disebut "ubat" oleh gurunya itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu damai, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari lagi, dan ia akan mati. Ia akan dibebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di hotel 5 bintang. Sesuatu yang sudah tidak dilakukan selama beberapa tahun terakhir ini. Oleh kerana malam ini adalah malam terakhirnya, ia ingin meninggalkan kenangan manis buat ahli keluarganya. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya sangat santai.

Sebelum tidur, ia mencium kening isterinya dan membisik di cupingnya, "Sayang, aku mencintaimu." Hatinya berbisik, ‘Kerana malam itu adalah malam terakhir, aku ingin meninggalkan kenangan manis’.

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar tidur dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia terasa ingin untuk melakukan jogging pagi itu. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, ia melihat isterinya masih tidur. Tanpa mengejutkannya, ia masuk ke dapur dan membuat 2 cawan kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk isterinya. Hatinya berbisik, ‘Kerana pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis’.

Di pejabat, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Pekerjanya pun menjadi binggung dengan tingkah laku majikan mereka, "Hari ini, perangai Boss kita aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi ramah serta mesra. Hatinya terus berbisik, ‘Kerana siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis’.

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleransi, bahkan bersikap terbuka terhadap pendapat-pendapat yang berbeza. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang ke rumah jam 5 petang, ia mendatangi isteri tercinta yang menunggunya di beranda depan. Kali ini si isteri pula yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi abang ingin minta maaf, kalau selama ini abang selalu menyusahkanmu" Katanya.

Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan kerana tingkahlaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, petang semalam?

Ia segera mengunjungi gurunya petang itu. Melihat wajah lelaki itu, rupanya Si Guru sudah mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa saja, kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam masa ini apabila kau hidup dengan kesedaran bahawa maut dapat menjemputmu bila-bila masa saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahsia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan." Kata Si Guru.

Lelaki itu mengucapkan terima kasih dan bersalam, malah memeluk erat Si Guru. Lalu ia pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.

Hingga kini, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam masa ini dan belajar melepaskan beban di hati. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu hidup.

Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugerah untuk dinikmati…..

Wassalam.

Sabtu, 1 Jun 2013

25 Doa dari Al-Quran...!





“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS 2:186)


  • Ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka (QS 2:201)

  • Ya Robb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kukuhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. (QS 2:250)


  • Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. (QS 2:286)


  • Ya Robb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. (QS 2:286)


  • Ya Robb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (QS 2:286)


  • Ya Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; kerana sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (kurnia). (QS 3:8)


  • Ya Robb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (QS 3:147)


  • Ya Robb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun. (QS 3:192)


  • Ya Robb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (iaitu): “Berimanlah kamu kepada Robb mu”, maka kami pun beriman”. (QS 3:193)


  • Ya Robb, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (QS 3:193)


  • Ya Robb, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. (QS 3:194)


  • Ya Robb, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, nescaya pastilah kami termasuk orang-orang yang kerugian (QS 7:23)


  • Ya Robb, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu. (QS 7:47)


  • Ya Robb, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. (QS 7:89)


  • Ya Robb, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu). (QS 7:126)


  • Ya Robb, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. (QS 10:85-86)


  • Ya Robb, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi mahupun yang ada di langit. (QS 14:38)


  • Wahai Robb, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). (QS 18:10)


  • Ya Robb, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS 25:74)


  • Ya Robb, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. (QS 40:7)


  • Ya Robb, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang soleh di antara bapa-bapa mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS 40:8)


  • Ya Robb, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman. (QS 44:12)


  • Ya Robb, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Robb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS 59:10)


  • Ya Allah, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. (QS 60:4)


  • Ya Robb, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS 66:8)



Sabtu, 2 Februari 2013

Di manakah nilai hati kita...!


Salah satu perkara yang membuat kita jadi munafik adalah ketika berkumpul dengan orang ramai. Kita lebih sibuk mengatur kata dan sikap supaya terlihat baik dalam pandangan mereka. Padahal, yang paling penting adalah mengatur hati supaya diterima Allah, iaitu diredhai Nya.

Penilaian orang terhadap kita sama sekali tidaklah penting. Yang penting penilaian Allah. Walau dipuji orang ramai, tapi jika Allah tidak redha, hanya kerugian  yang diperolehi. Sebaliknya, dicaci orang lain, tapi Allah redha, maka kita termasuk dalam golongan yang beruntung.

Ketika sedang bersendirian, sedarilah  bahawa Allah Maha Tahu isi hati kita. Sebelah kiri dan kanan ada malaikat yang siap mencatat segala amalan. Ketika berjalan, kita cenderung mengatur gerak supaya kelihatan bagus, kelihatan gagah di mata manusia. Seharusnya, kita sibuk bertanya pada hati kita. Ada ujub atau tidak, ada riya atau tidak. Bagus berjalan tegap, tapi kalau niatnya supaya terlihat gagah, tidak ada untungnya.

Jika kita berjumpa dengan orang, dan hendak berbicara, tanya terlebih dahulu hati kita. Apakah bicaranya ini kerana riya atau membangga diri? Apakah perlu kita berbicara? Apakah pembicaraan ini sedang mengangkat diri atau menjatuhkan orang?

Misalnya sedang mengajar, periksa terlebih dahulu hati kita. Apa ingin dilihat sebagai guru yang pintar atau hebat. Kalau kita selalu berusaha mengawasi hati, maka akan terlahir ketulusan. Allah akan menggunakan lisan dan sikap kita menjadi bertenaga. Mungkin sederhana tapi ada tenaganya.

Kalau kita duduk dan ada orang disamping kita, jangan berbuat sopan hanya untuk dilihat dan dinilai baik. Berbuat sopanlah kerana amalan tersebut memang disukai Allah. Kalau kita terus sibuk memeriksa hati, maka hati nurani akan bicara. Kalau bertanya ke hati, pasti hati menjawab.

Orang yang kenal Allah, akan lebih menikmati saat-saat kesendiriannya. Tidak ada rekayasa sikap, ucapan, bahkan perasaan untuk dipuji orang. Allah Maha Dekat, Maha Melihat, dan Maha Tahu segala isi hati dan perbuatan kita. Tanyalah para kekasih Allah, pasti mereka senang menyendiri. Keluarnya untuk manfaat. Keluar dalam tugas atau pekerjaan. Bukan untuk menyenangkan dirinya. Wallahu’alam 

Selasa, 11 Disember 2012

Misteri alam kubur..!

Jika kita memasuki daerah perkuburan dan melayangkan pandangan pada kubur-kubur yang tersusun rapi, maka kita akan mendapati keheningan dan sunyi yang berpanjangan. Tidak terdengar sedikit pun suara, walaupun ramai yang tinggal di situ. Kubur-kubur yang disusun rapat, padahal ketika hidup, mereka tinggal berjauhan, tidak saling mengenal antara satu dengan yang lainnya. Ada anak kecil yang masih menyusu, ada orang kaya, ada juga orang miskin. Ada orang yang tua renta, dan ada pula anak muda. Namun, apakah gerangan yang terjadi pada mereka? Banyak di antara kita tidak mengetahui Misteri Alam Kubur.


Oleh kerana itu, kali ini saya akan mengajak kita untuk menjelajahi alam kubur sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah saw berdasarkan wahyu dari Allah swt, bukan dari berita tahyul yang dibuat-buat oleh manusia.

Al-Barra’ bin `Azib-ra berkata, “Kami pernah mengiringi jenazah seorang dari sahabat ansar. Tatkala kami tiba di kuburan, ternyata penggalian lahad belum selesai. Akhirnya Rasulullah saw duduk menghadap kiblat, dan kami pun duduk di sekelilingnya. seolah-olah ada burung di atas kepala kami yang hinggap kerana dalam keadaan diam dan tenang. Rasulullah saw memegang kayu yang Baginda saw pukulkan ke tanah.Baginda saw memandang ke langit lalu memandang ke tanah, lalu mendongakkan kepala Baginda saw dan menundukkannya tiga kali.

Kemudian Baginda saw bersabda, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur”. Diucapkan dua atau tiga kali. Kemudian Rasulullah bersabda, Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari azab kubur” sebanyak tiga kali. Kemudian bersabda lagi, “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila meninggal dunia dan menghadapi Akhirat, maka turunlah para malaikat dari langit. Wajahnya putih seakan-akan di wajah mereka itu matahari. Mereka membawa kain kafan di antara kafan-kafan syurga dan hanuth (pewangi) diantara pewangi syurga hingga mereka duduk dari tempat yang jaraknya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi kepalanya lalu dia berkata, “Wahai jiwa yang baik (dalam sebuah riwayat: yang tenang) keluarlah menuju kepada ampunan Allah dan keredhaan Nya”.

Rasulullah bersabda, “Maka keluarlah roh itu mengalir seperti titisan air dari wadahnya, lalu malaikat itu mengambilnya. Apabila malaikat maut telah mengambilnya, maka para malaikat itu tidak membiarkannya berada di tangan malaikat maut sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya, lalu mereka meletakkan di dalam kafan dan pewangi tersebut. Maka itulah makna firman Allah swt, “Dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat kami; dan malaikat-malaikat kami itu tidak melalaikan kewajipannya” . (QS. Al An’am:61)

Semerbak bau wangi seperti kasturi paling wangi yang di dapati di muka bumi. Lalu mereka membawanya naik. Tidaklah mereka melintaskan roh itu di hadapan sekumpulan para malaikat melainkan para malaikat itu mengatakan, “Siapakah roh yang wangi ini?” Mereka menjawab, “Fulan bin Fulan”. Disebut dengan nama-nama terbaik yang dulu mereka menyebutnya ketika di dunia hingga mereka sampai di langit dunia. Lalu mereka minta agar pintu dibukakan untuk roh itu. Maka dibukakan untuk mereka. Lalu para malaikat muqarrabun dari semua sisi langit itu menghantarkannya sampai ke langit yang berikutnya hingga berakhir di langit yang ke tujuh. Maka Allah swt berfirman, “Tulislah untuk hamba Ku di `Illiyyin.

“Tahukah kamu apakah `Illiyyin itu? (iaitu) Kitab yang bertulis. Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah)”. (QS. Al-Muthoffifin: 19-21).

Maka ditulislah kitabnya di Illiyyin. Kemudian Allah berfirman lagi, “Kembalikanlah ia ke bumi. sesungguhmya Aku berjanji kepada mereka bahawa dari bumilah Aku menciptakan mereka dan dari sana Aku kembalikan mereka, dan dari sana pula Aku mengeluarkan mereka lagi di kali yang lain”. Maka ia dikembalikan ke bumi dan dikembalikan rohnya itu ke dalam jasadnya.

Kata Baginda saw, “Sesungguhnya ia mendengar bunyi alas kaki orang-orang yang menghantarnya, apabila mereka pulang meninggalkannya. Lalu ia didatangi oleh dua malaikat yang keras herdikannya seraya mengherdiknya dan mendudukkannya. Lalu kedua malaikat itu bertanya kepadanya, “Siapa Robbmu?” Maka ia menjawab, “Robbku adalah Allah”. Keduanya bertanya lagi, “Apa agamamu?” Dia menjawab, “Agamaku Islam”. Lalu keduanya bertanya lagi, “Siapakah orang yang diutus oleh Allah kepada kalian itu?” Dia menjawab, “Beliau adalah utusan Allah”. Lalu keduanya bertanya lagi kepadanya, “Apakah amalanmu?”Dia menjawab, “Aku membaca Kitabullah, lalu aku beriman kepadanya, dan membenarkannya” . Lalu malaikat itu bertanya lagi, “Siapa Robbmu? dan apa agamamu? dan siapa nabimu?” Itulah akhir fitnah (ujian) atau pertanyaan yang diajukan kepada seorang mukmin. Maka itulah makna firman Allah swt, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”. (QS.Ibrahim: 27)


Lalu ia menjawab, “Robb ku adalah Allah; agamaku Islam, dan nabiku adalah Muhammad saw”. Maka ada Penyeru (Allah) yang menyeru dari langit dengan mengatakan, “Telah benar hamba Ku. maka bentangkanlah permadani dari Jannah (syurga) dan kenakanlah untuknya dari pakaian Jannah, serta bukakanlah untuknya pintu ke Jannah”. Lalu sampai kepadanya hawa jannah dan bau wanginya, dan diluaskan kuburnya sejauh mata memandang. Datanglah kepadanya (di dalam sebuah riwayat: didatangkan kepadanya dalam bentuk) seorang lelaki yang tampan wajahnya bagus pakaiannya, dan wangi baunya, lalu orang itu mengatakan, “Berbahagialah dengan apa yang membuatmu senang dan berbahagialah dengan keredhaan dari Allah swt dan Jannah yang di dalamnya ada nikmat-nikmat yang abadi. Ini adalah hari yang dijanjikan kepada engkau”. Lalu ia mengatakan kepadanya, “Engkau telah diberi khabar gembira oleh Allah dengan kebaikan, siapakah engkau ini? wajahmu menunjukkan wajah orang yang datang dengan kebaikan”. Orang itu menjawab, “Aku adalah amalanmu yang soleh. Demi Allah tidaklah aku mengetahuimu, kecuali engkau orang yang bersegera melakukan ketaatan kepada Allah. Maka Allah membalasmu dengan yang terbaik”.


Kemudian dibukakanlah untuknya pintu Jannah dan pintu neraka. Lalu dikatakan kepadanya, “Inilah tempat tinggalmu jika engkau derhaka kepada Allah. Kemudian Allah menggantikanmu dengan yang itu (Jannah)”. Saat ia melihat apa yang ada di dalam Jannah, ia mengatakan, “Ya Robbi, segerakanlah datangnya hari Kiamat agar aku pulang lagi kepada keluargaku dan hartaku”. Lalu dikatakan kepadanya, “Tenanglah”.


Baginda saw terus bersabda , “Sesungguhnya seorang hamba yang kafir (di dalam sebuah riwayat, “yang derhaka” ) apabila ia meninggal dunia dan menghadapi Akhirat, turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang keras lagi kejam lagi berwajah hitam-hitam. Mereka membawa pakaian kasar dari neraka. lalu mereka duduk dari tempatnya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi kepalanya lalu ia berkata, “Wahai jiwa yang jelek! Keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya! ” Maka tercerai-berai roh itu di dalam jasadnya, kemudian dicabut seperti dicabutnya besi berduri (banyak cabangnya) dari bulu yang basah lalu tertarik putus bersamanya urat-urat dan pembuluhnya. Kemudian ia dilaknat oleh setiap malaikat yang ada di antara langit dan bumi dan semua malaikat yang ada di langit; ditutuplah pintu-pintu langit. Tidak ada di antara malaikat penjaga pintu itu, kecuali mereka memohon kepada Allah agar roh itu jangan dinaikkan melalui tempat mereka.


Lalu malaikat maut mangambilnya. Apabila malaikat maut telah mengambilnya, maka para malaikat itu tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya, lalu mereka meletakkannya di dalam kafan tersebut. Maka keluarlah dari roh itu bau busuk seperti bangkai paling busuk yang didapati di muka bumi. Kemudian mereka membawanya naik. Tidaklah mereka melewatkan roh itu di hadapan sekumpulan para malaikat, melainkan para malaikat itu mengatakan, “Siapakah roh yang sangat busuk ini?” Mereka menjawab, “Fulan bin Fulan”. Disebut dengan nama-nama terburuk yang dulu mereka menyebutnya ketika di dunia hingga mereka sampai di langit dunia. Lalu mereka minta agar pintu dibukakan untuk roh itu. Namun tidak dibukakan untuknya.


Kemudian Rasulullah saw membaca ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langitdan tidak (pula) mereka masuk syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS. Al-A’raf:40)


Allah berfirman, “Tulislah kitabnya di Sijjin, di bumi yang paling bawah”. Kemudian Allah berfirman lagi, “Kembalikanlah ia ke bumi. Sesungguhmya Aku berjanji kepada mereka bahawa dari bumilah Aku menciptakan mereka dan dari sana Aku kembalikan mereka, dan dari sana pula Aku mengeluarkan mereka lagi di kali yang lain”. Maka dilemparkan roh dari langit dengan lemparan yang membuat roh itu kembali ke dalam jasadnya.


Kemudian Rasulullah saw membaca, “Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”. (QS. Al-Hajj: 31)


Lalu dikembalikan roh itu ke dalam jasadnya. Kata Baginda saw, “Sesungguhnya ia mendengar bunyi alas kaki orang-orang yang menghantarkannya apabila mereka pulang meninggalkannya. Lalu ia didatangi oleh dua malaikat yang keras herdikannya, lalu keduanya mengherdiknya dan mendudukkannya.

Kemudian kedua malaikat itu bertanya kepadanya, “Siapa Robbmu?” Maka ia menjawab, “Haah…hah, saya tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi, “Apa agamamu?” Dia menjawab, “Haah hah, saya tidak tahu”. Lalu keduanya bertanya lagi, “apa kata mu tentang orang yang diutus oleh Allah kepada kalian itu?” Dia tidak tahu namanya. Lalu dikatakan kepadanya, “Muhammad!?” Maka ia menjawab, “Haah…hah, saya tidak tahu saya mendengar orang mengatakan begitu”. Lalu dikatakan kepadanya, “Engkau tidak tahu, dan tidak membaca?”


Maka ada penyeru (Allah) yang menyeru dari langit dengan mengatakan, “Dia dusta. Maka bentangkanlah permadani dari neraka dan bukakanlah untuknya pintu ke neraka”. Lalu sampailah kepadanya panas neraka dan hembusan panasnya.


Disempitkan kuburnya hingga bertautlah tulang rusuknya kerananya. Datanglah kepadanya (di dalam sebuah riwayat, didatangkan kepadanya dalam bentuk) seorang lelaki yang buruk wajahnya buruk pakaiannya dan busuk baunya. Lalu orang itu mengatakan, “Aku kkabarkan kepadamu tentang sesuatu yang membuatmu menderita. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu”. Lalu ia mengatakan kepadanya, “Engkau telah diberikan khabar buruk oleh Allah”. Siapakah engkau ini? Wajahmu menunjukkan wajah orang yang datang dengan kehinaan”. Orang itu menjawab, “Aku adalah amalanmu yang buruk. Demi Allah, tidaklah aku mengetahuimu, kecuali engkau adalah orang yang berlambat-lambat dari melakukan ketaatan kepada Allah dan bergegas kepada kemaksiatan kepada Allah. Maka Allah membalasmu dengan yang terburuk”. Kemudian didatangkan kepadanya seorang yang buta, tuli lagi bisu dengan membawa sebuah palu besar di tangannya! Jika palu itu dipukulkan kepada gunung, tentu gunung itu menjadi debu. Maka orang itu memukulkan palu itu kepadanya hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah mengembalikannya lagi seperti semula. Lalu orang itu memukulnya sekali lagi hingga ia memekik keras dengan teriakan yang dapat didengar oleh segala yang ada, kecuali manusia dan jin. Kemudian dibukakan pintu neraka untuknya dan dibentangkan permadani dari neraka. Maka ia berkata:”Ya Robbi! janganlah Engkau datangkan hari kiamat itu!” (Abu Daud dalam Sunan-nya (4753), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (107), Ath- Thoyalisiy dalam Al-Musnad (753), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (12059). Hadis ini di-sahihkan oleh Syeikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1630))


Demikianlah perjalanan kita kali ini. Semoga dapat menjadi nasihat bagi kita sebagai calon penghuni kubur yang akan segera menyusul orang-orang yang ada dalam liang lahad. Maka persiapkanlah iman dan amal soleh kita dengan mempelajari agama kita ini sehingga kita menjadi orang-orang yang selamat dari herdikan malaikat, dan himpitan kubur yang gelap.

Ingatlah dunia dan umur kita singkat... !!



Rabu, 14 November 2012

Berkatalah baik atau diam...!






Pada suatu saat ketika Rasulullah saw sedang bertawaf di Kabah, seorang lelaki bernama Fudholah bin Umair bermaksud hendak membunuh Baginda saw. Ia menyelinap dalam rombongan orang-orang yang bertawaf dan mendekati Baginda saw. Saat ia sudah berada dekat di samping Rasulullah saw dan mempunyai peluang untuk membunuh Baginda saw, tiba-tiba ia terkejut saat Rasulullah saw memandangnya.

Kemudian Rasulullah saw menoleh kepadanya saat ia sedang bertawaf, dan beliau berkata, “Wahai Fudholah, apa yang engkau bicarakan dengan hatimu?”

Fudholah menjawab, “Wahai Rasulullah, saya bertawaf. Saya mengingat Allah.”

Lalu Rasulullah diam dan melanjutkan tawafnya. Fudholah mengikutinya untuk kedua kalinya dan berjalan dengan tawaf di belakang Rasulullah.

Tidak berapa lama, Rasulullah menoleh lagi kepadanya dan berkata, “Apa yang engkau bicarakan dengan hatimu?”

Sesungguhnya Rasulullah saw tidak pernah menyembunyikan senyumannya kepada siapapun, termasuk orang yang berniat untuk membunuh Baginda saw. Seorang lelaki yang penuh dengan kebencian dan ingin membunuh, Rasulullah menoleh kepadanya dan memandangnya dengan tersenyum. Saat pertama kali, memandangnya dengan tersenyum. Saat kedua, memandangnya juga dengan senyuman.

Fudholah menjawab, “Wahai Rasulullah, saya mengingat Allah dan bertawaf.”

Rasulullah tersenyum dan melanjutkan tawafnya. Lalu lelaki itu mengikutinya.

Ketiga kali, Rasulullah menoleh kepadanya dan berkata, “Wahai Fudholah, apa yang engkau bicarakan dengan hatimu?”

Fudholah menjawab, “Wahai Rasulullah, aku mengingat Allah.”

Kemudian Rasulullah menoleh kepadanya.

Apakah kita tahu erti “menoleh kepadanya”?. Disebutkan di dalam sirah Nabi, antara budi pekerti Rasulullah bahawa kalau Baginda saw menoleh, ertinya Baginda saw menoleh dengan seluruh badannya.

Rasulullah menoleh kepadanya dan lalu meletakkan tangan beliau di dada lelaki itu. Dada yang penuh dengan kebencian dan kemarahan. Ia menyembunyikan pisau di badannya.

Ketika Rasulullah saw meletak tangan suci Baginda saw di dadanya, Fudholah berkata, “Demi Allah. Saat ia meletakkan tangannya di dadaku, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang paling aku benci melebihi dirinya. Namun setelah ia mengangkat tangannya dari dadaku, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang paling aku cintai melebihi dirinya.”

Selama hidup ini, kita banyak menemui orang-orang yang mewarisi perwatakan seperti Fudholah. Mereka ada di tengah-tengah masyarakat yang kita hidup ini. Akan tetapi, dada-dada mereka selalu sangat memerlukan orang-orang yang mewarisi perwatakan Rasulullah saw untuk menghilangkan sifat-sifat tercela dari dada-dada mereka yang penuh kemarahan dan kebencian.

Mereka yang mewarisi watak Fudholah menunggu muslim yang mampu mewarisi watak Rasulullah saw.
Berapa ramai yang menyakitiku ketika aku mendengar sebahagian dari kaum muslimin berbicara dan berkata, “Saat ini banyak ditemui para pendakwah yang berkata dengan kelembutan dan kedamaian, berkata dengan budi pekerti dan kasih sayang. Ini fenomena baru telah muncul yang ingin menggantikan jihad.”

Inilah bentuk jihad yang kita perlukan saat ini. Di sini, dalam masyarakat kita. Kerana sesungguhnya kita perlu untuk berjihad kepada hati yang di dalam dada, hingga kita mampu menundukkannya. Sampai kita mampu mendidiknya. Sampai kita boleh meninggikannya ke langit. Supaya kita mampu untuk memberikan pertolongan kepada siapa saja yang hidup di muka bumi ini.

Inilah yang dimaksud kalam Baginda, Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda, “Berkata kalimat yang baik adalah sedekah”

Saat ini dengarkan orang-orang yang berkata, “Berkata kalimat yang baik adalah sia-sia.” Baiklah, kami hormati. Akan tetapi rujukan dan contoh tauladan kita tetap pada Rasulullah saw yang berkata bahawa berkata kalimat yang baik adalah sedekah. Saya tidak mampu meninggalkan perkataan Rasulullah dan mengambil perkataan orang lain.

“Berkata kalimat yang baik adalah sedekah”